Rizal dan Mbah Hambali (Cerpen) Oleh : A. Musthofa Bisri

Written By Imam Baidillah on Minggu, 23 Juni 2013 | 19.57

Sebagai lelaki, sebetulnya umur 37 tahun belum
terbilang tua benar. Tapi Rizal tak tahu mengapa
kawan-kawannya selalu mengejeknya sebagai
bujang lapuk, hanya karena dia belum kawin.
Orang tuanya sendiri, terutama ibunya, juga begitu.
Seolah-olah bersekongkol dengan kawan- kawannya itu; hampir di setiap kesempatan selalu menanyainya apakah dia sudah mendapatkan calon pendamping atau belum. Rizal selalu menanggapi semua itu hanya dengan senyum-senyum.

Jangan salah sangka! Tampang Rizal tidak jelek.
Bahkan dibanding rata-rata kawannya yang sudah lebih dahulu kawin, tampang Rizal terbilang sangat manis. Apalagi bila tersenyum. Sarjana ekonomi dan aktivis LSM. Kurang apa?

“Terus teranglah, Zal. Sebenarnya cewek seperti
apa sih yang kau idamkan?” tanya Andik
menggoda, saat mereka berkumpul di rumah Pak Aryo yang biasa dijadikan tempat mangkal para aktivis LSM kelompoknya Rizal itu.
“Kalau tahu maumu, kita kan bisa membantu, paling tidak memberikan informasi-informasi.”

“Iya, Zal,” timpal Budi, “kalau kau cari yang cantik, adikku punya kawan cantik sekali. Mau
kukenalkan? Jangan banyak pertimbanganlah!
Dengar-dengar kiamat sudah dekat lho, Zal.”

“Mungkin dia cari cewek yang hafal Quran ya, Zal?!” celetuk Eko sambil ngakak. “Wah kalau iya, kau mesti meminta jasa ustadz kita, Kang Ali ini. Dia pasti mempunyai banyak kenalan santri-santri perempuan, termasuk yang hafizhah.”

“Apa ada ustadz yang rela menyerahkan anaknya yang hafizhah kepada bujang lapuk yang nggak bisa ngaji seperti Rizal ini?” tukas Edy mengomentari.

“Tenang saja, Zal!” ujar Kang Ali, “kalau kau sudah berminat, tinggal bilang saja padaku.”

“Jangan-jangan kamu impoten ya, Zal?” tiba-tiba
Yopi yang baru beberapa bulan kawin ikut
meledek.

Rizal meninju lengan Yopi, tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum kecut.

“Tidak sumbut dengan tampilanmu,” celetuk Pak
Aryo ikut nimbrung sehabis menyeruput kopinya.
“Tampang boleh, sudah punya penghasilan
lumayan, sarjana lagi; sama cewek kok takut! Aku carikan bagaimana?”

“Jawab dong, Zal!” kata Bu Aryo yang muncul
menghidangkan pisang goreng dan kacang rebus, mencoba menyemangati Rizal yang tak berkutik dikerubut kawan-kawannya.

“Biar saja, Bu,” jawab Rizal pendek tanpa nada
kesal. “Kalau capek kan berhenti sendiri.”

Memang Rizal orangnya baik. Setiap kali diledek
dan digoda kawan-kawannya soal kawin begitu,
dia tidak pernah marah. Bahkan diam-diam dia
bersyukur kawan-kawannya memperhatikan
dirinya. Dan bukannya dia tidak pernah berpikir
untuk mengakhiri masa lajangnya; takut pun tidak. Dia pernah mendengar sabda Nabi yang
menganjurkan agar apabila mempunyai sesuatu
hajat yang masih baru rencana jangan disiar-
siarkan.
Sudah sering –sampai bosan– Rizal menyatakan keyakinannya bahwa jodoh akan datang sendiri, tidak perlu dicari. Dicari ke mana-mana pun, jika bukan jodoh pasti tidak akan terwujud. Jodoh seperti halnya rezeki. Mengapa orang bersusah-payah memburu rezeki, kalau rezeki itu sudah ditentukan pembagiannya dari Atas. Harta yang sudah di tangan seseorang pun
kalau bukan rezekinya akan lepas.
Dia pernah membaca dalam buku “Hikam”-nya Syeikh Ibn ’Athaillah As-Sakandarany sebuah ungkapan yang menarik, “Kesungguhanmu dalam memperjuangankan sesuatu yang sudah dijamin untukmu dan kesambalewaanmu dalam hal yang dituntut darimu, membuktikan padamnya mata- hati dari dirimu.”

Setiap teringat ungkapan itu, Rizal merasa seolah-olah disindir oleh tokoh sufi dari Iskandariah itu.

Diakuinya dirinya selama ini sibuk –kadang-
kadang hingga berkelahi dengan kawan–
mengejar rezeki, sesuatu yang sebetulnya sudah
dijamin Tuhan untuknya. Sementara dia sambalewa dalam berusaha untuk berlaku lurus menjadi manusia yang baik, sesuatu yang dituntut Tuhan.

“Suatu ketika mereka akan tahu juga,” katanya
dalam hati.
***

Syahdan, pada suatu hari, ketika kelompok Rizal berkumpul di rumah Pak Aryo seperti biasanya,
Kang Ali bercerita panjang lebar tentang seorang
“pintar” yang baru saja ia kunjungi.
Kang Ali memang mempunyai kesukaan mengunjungi orang-orang yang didengarnya sebagai orang pintar; apakah orang itu itu kiai, tabib, paranormal, dukun, atau yang lain.
“Aku ingin tahu,” katanya menjelaskan tentang kesukaannya itu, “apakah mereka itu memang mempunyai keahlian seperti yang aku dengar, atau hanya karena pintar-pintar mereka membohongi masyarakat sebagaimana juga terjadi di dunia politik.”

Karena kesukaannya inilah, oleh kawan-kawannya Kang Ali dijuluki pakar “orang pintar”.

“Meskipun belum tua benar, orang-orang
memanggilnya mbah. Mbah Hambali. Orangnya
nyentrik. Kadang-kadang menemui tamu ote-ote,
tanpa memakai baju. Kadang-kadang dines pakai
jas segala. Tamunya luar biasa; datang dari segala penjuru tanah air. Mulai dari tukang becak hingga menteri. Bahkan menurut penuturan orang-orang dekatnya, presiden pernah mengundangnya ke istana. Bermacam-macam keperluan para tamu itu;
mulai dari orang sakit yang ingin sembuh, pejabat yang ingin naik pangkat, pengusaha pailit yang ingin lepas dari lilitan utang, hingga caleg nomor urut sepatu yang ingin jadi. Dan kata orang-orang yang pernah datang ke Mbah Hambali, doa beliau memang mujarab. Sebagian di antara mereka malah percaya bahwa beliau waskita, tahu sebelum winarah.”

Pendek kata, menurut Kang Ali, Mbah Hambali ini
memang lain. Dibanding orang-orang “pintar”
yang pernah ia kunjungi, mbah yang satu ini
termasuk yang paling meyakinkan kemampuannya.

“Nah, kalau kalian berminat,” kata Kang Ali akhirnya, “aku siap mengantar.”

“Wah, ide bagus ini,” sahut Pak Aryo sambil merangkul Rizal. “Kita bisa minta tolong atau minimal minta petunjuk tentang jejaka kasep kita ini. Siapa tahu jodohnya memang melalui Mbah Hambali itu.”

“Setujuuu!” sambut kawan-kawan yang lain penuh semangat seperti teriakan para wakil rakyat di gedung parlemen.

Hanya Rizal sendiri yang, seperti biasa, hanya diam saja; sambil senyum-senyum kecut. Sama sekali tak ada tanda-tanda dia keberatan. Apakah sikapnya itu karena dia menghargai perhatian kawan-kawannya dan tak mau mengecewakan mereka, atau sebenarnya dia
pun setuju tapi malu, atau sebab lain, tentu saja
hanya Rizal yang tahu.

Tapi ketika mereka memintanya untuk menetapkan waktu, dia tampak tidak ragu-ragu menyebutkan hari dan tanggal; meski seandainya yang lain yang menyebutkannya, semuanya juga akan menyetujuinya, karena hari dan tanggal itu merupakan waktu prei mereka semua.
***

Begitulah. Pagi-pagi pada hari tanggal yang ditentukan, dipimpin Kang Ali, mereka beramai-
ramai mengunjungi Mbah Hambali.

Ternyata benar seperti cerita Kang Ali, tamu Mbah Hambali memang luar biasa banyaknya. Pekarangan rumahnya yang luas penuh dengan kendaraan. Dari berbagai plat nomor mobil, orang tahu bahwa mereka yang berkunjung datang dari berbagai daerah.

Rumahnya yang besar dan kuno hampir seluruh
ruangnya merupakan ruang tamu. Berbagai ragam kursi, dari kayu antik hingga sofa model kota, diatur membentuk huruf U, menghadap dipan beralaskan kasur tipis di mana Mbah Hambali duduk menerima tamu-tamunya.
Di dipan itu pula konon si mbah tidur. Persis di depannya, ada tiga kursi diduduki mereka yang mendapat giliran matur.

Ternyata juga benar seperti cerita Kang Ali, Mbah
Hambali memang nyentrik. Agak deg-degan juga
rombongan Rizal cs melihat bagaimana “orang
pintar” itu memperlakukan tamu-tamunya.
Ada tamu yang baru maju ke depan, langsung dibentak dan diusir.
Ada tamu yang disuruh mendekat, seperti hendak dibisiki tapi tiba-tiba “Au!” si tamu digigit telinganya.
Ada tamu yang diberi uang tanpa hitungan, tapi ada juga yang dimintai uang dalam jumlah tertentu.

Giliran rombongan Rizal cs diisyarati disuruh
menghadap. Kang Ali, Pak Aryo, dan Rizal sendiri
yang maju.
Belum lagi salah satu dari mereka angkat bicara, tiba-tiba Mbah Hambali bangkit turun dari dipannya, menghampiri Rizal.
“Pengumuman! Pengumuman!” teriaknya sambil menepuk-nepuk pundak Rizal yang gemetaran.
“Kenalkan ini calon menantu saya! Sarjana
ekonomi, tapi nyufi!” Kemudian katanya sambil
mengacak-acak rambut Rizal yang disisir rapi,
“Sesuai yang tersurat, kata sudah diucapkan,
disaksikan malaikat, jin, dan manusia. Apakah kau akan menerima atau menolak takdirmu ini?”

“Ya, Mbah!” jawab Rizal mantap.

“Ya bagaimana? Jadi maksudmu kau menerima
anakku sebagai istrimu?”

“Ya, menerima Mbah!” sahut Rizal tegas.

“Ucapkan sekali lagi yang lebih tegas!”

“Saya menerima, Mbah!”

“Alhamdulillah! Sudah, kamu dan rombonganmu
boleh pulang. Beritahukan keluargamu besok lusa suruh datang kemari untuk membicarakan kapan akad nikah dan walimahnya!”

Di mobil ketika pulang, Rizal pun dikeroyok
kawan-kawannya.
“Lho, kamu ini bagaimana, Zal?” kata Pak Aryo
penasaran.
“Tadi kamu kok ya ya saja, seperti tidak kau pikir.”
“Kau putus asa ya?” timpal Budi.
“Atau jengkel diledek terus sebagai bujang lapuk, lalu kau mengambil keputusan asal-asalan begitu?”
“Ya kalau anak Mbah Hambali cantik,” komentar
Yopi, “kalau pincang atau bopeng, misalnya,
bagaimana?”
“Pernyataanmu tadi disaksikan orang banyak lho,” kata Eko mengingatkan. “Lagi pula kalau kau ingkar, kau bisa kualat Mbah Hambali nanti!”
“Jangan-jangan kau diguna-gunain Mbah Hambali, Zal!” kata Andik khawatir.

Seperti biasa, Rizal hanya diam sambil senyum-
senyum. Kali ini tidak seperti biasa, Kang Ali juga
diam saja sambil senyum-senyum penuh arti.

***
Rembang, 2004

Ditulis Oleh : Imam Baidillah ~Tentang dan Karya Penyair

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Rizal dan Mbah Hambali (Cerpen) Oleh : A. Musthofa Bisri yang ditulis oleh Tentang dan Karya Penyair yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 19.57

0 komentar:

Posting Komentar

Tentang dan Karya Penyair© 2014. All Rights Reserved.
SEOCIPS Areasatu