Gus Jakfar (Cerpen) oleh : A Mustofa Bisri

Written By Imam Baidillah on Minggu, 23 Juni 2013 | 19.39

Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren “Sabilul Muttaqin” dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.

"Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau
sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan
putera bungsu Kiai Saleh itu, "Saya sendiri tidak
paham apa maksudnya."
"Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas
Bambang, pegawai Pemda
yang sering mengikuti pengajian Subuh Kiai Saleh, "Matanya itu lho. Sekilas saja beliau melihat kening orang, kok langsung bisa melihat
rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini anaknya penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu. Sebelum dilamar
orang sabrang, kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar
ya?!'. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya."
"Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru
Slamet, "kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV
itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?!' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal." "Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz
Kamil, "nggak tahunya beliau sedang membaca
tanda pada diri Kang Kandar."
"Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari
tadi sudah kepingin ikut bicara, "waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah saku sampeyan kok mondol- mondol, dapat proyek besar ya?!' Padahal saat itu saku saya justru sedang kempes. Dan percaya atau tidak, esok harinya, saya memenangkan tender yang diselenggarakan pemda tingkat propinsi."
"Apa yang begitu itu yang disebut ilmu kasyaf?"
tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan.
"Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil, "makanya
saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya
terganggu."
***
MAKA ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah,
masyarakat pun geger;
terutama para santri kalong, orang-orang
kampung yang ikut mengaji
tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin, yang selama ini
merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu
sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca
tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-
isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata dia benar-benar kehilangan keistimewaannya. "Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan,
"wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?" "Kemana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu," kata Lik
Salamun, "kalau saja kita tahu kemana beliau,
mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah." "Tapi bagaimana pun, ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil, "paling
tidak kini, kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka jika kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini, hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau." Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam
Jumat sehabis wiridan salat Isya, dimana Gus Jakfar prei, tidak mengajar, rombongan santri
kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini
hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-
sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat
berupa keseganan, was-was, dan rasa takut. Setelah ngobrol kesana-kemari akhirnya Ustadz
Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan, "Gus, di samping
silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang
juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran
dan sangat ingin tahu
latar belakang perubahan sikap sampeyan." "Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil
tersenyum penuh arti, "Sikap
yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok
merasa tidak berubah." "Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca
tanda-tanda orang," tukas
Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet,
sampeyan tak mau
lagi membaca bahkan diminta pun tak mau." "O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru
tahu. Tapi dia
tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak
lama, baru setelah
menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan:
"Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi
kami diam saja. "Kalian ingat, ketika saya lama menghilang?"
akhirnya Gus Jakfar
bertanya, membuat kami yakin dia benar-benar
siap untuk bercerita,
maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam
saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang
tinggal di sebuah
desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini
sekitar 200 km ke
arah selatan. Nama Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam
mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang
usianya sudah lebih
100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada
beliau pun rata-rata
sudah disebut kiai di daerah masing-masing." "Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa
menahan keinginan
saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru
kepada wali Tawakkal
itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit
siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam
mimpi dengan niat
bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata
ketika sampai disana,
hampir semua orang yang saya jumpai mengaku
tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak kesana-
kemari, ada seorang
tua yang memberi petunjuk. 'Cobalah nakmas ikuti
jalan setapak disana
itu,' katanya, 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan
sebuah sungai kecil, terus saja nakmas menyeberang. Begitu
sampai seberang, nakmas
akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah
kemungkinan besar
orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di
sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang
tua seperti yang
nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya
Mbah Jogo. Barangkali
itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?' 'Kiai
Tawakkal.' 'Ya, kiai Tawakal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.'
Saya pun mengikuti
petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan
menemukan sekelompok
rumah gubuk dari bambu. Dan betul, di gubuk
bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal
alias Mbah Jogo sedang
dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah
tua. Saya diterima
dengan penuh keramahan, seolah-olah saya
sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai
Tawakkal sama
sekali tidak mencerminkan sebagai orang tua.
Tubuhnya tegap dan
wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah
memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat
yang meluncur dari
mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah." Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas
panjang, baru kemudian
melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat
saya terkejut dan
terganggu. Saya melihat di kening beliau yang
lapang, ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan
dengan huruf yang
cukup besar berbunyi 'Ahli neraka'. Astaghfirullah!
Belum pernah
selama ini saya melihat tanda yang begitu
gamblang. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru.
Masak seorang
yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani
banyak kiai yang
lain, disurat sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya
mencoba meyakin- yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak
bisa. Tanda itu
terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan
saya melihat tanda
itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu.
Gila." "Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada
beliau, meskipun secara
lisan memang saya sampaikan demikian, dalam
hati sudah berubah
menjadi keinginan untuk menyelidiki dan
memecahkan keganjilan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal,
saya tidak melihat
sama sekali hal-hal yang mencurigakan. Kegiatan
rutinnya sehari-hari
tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai
yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti
dhuha, tahajjud,
witir, dan sebagainya, mengajar kitab-kitab
(umumnya kitab-kitab
besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu;
dan semisalnya. Kalau pun beliau keluar biasanya untuk memenuhi
undangan hajatan atau-dan
ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum.
Memang ada kalanya
beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi
menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang
sudah dijalani Kiai
Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata kata
mereka." "Baru setelah beberapa minggu tinggal di
'pesantren bambu', saya
mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian
untuk mengikuti Kiai
Tawakkal keluar. Saya pikir inilah kesempatan
untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini
mengganggu saya." "Begitulah, pada suatu malam purnama, saya
melihat kiai keluar dengan
berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah
larut, tidak mungkin
beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan
atau lainnya. Dengan hati-hati, saya pun membuntutinya dari belakang;
tidak terlalu dekat,
tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak
hingga ke jalan
desa, kiai terus berjalan dengan langkah yang
tetap tegap. Akan kemana beliau gerangan? Apa ini yang disebut
semacam lelana brata?
Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-
hati mengikutinya,
khawatir tiba-tiba kiai menoleh ke belakang." "Setelah melewati kuburan dan kebun sengon,
beliau berbelok. Ketika
kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata
sosoknya tak kelihatan
lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang
penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan
bengong, saya mendekati
warung terpencil dengan penerangn petromak itu.
Dua orang wanita-yang
satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih
tua-dengan dandanan yang menor, sibuk melayani pelanggan sambil
menebar tawa genit kesana-
kemari. Tidak mungkin kiai mampir ke warung ini,
pikir saya; ke
warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung
yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini. 'Mas Jakfar!' tiba-
tiba saya dikagetkan
oleh suara yang tidak asing di telinga saya,
memanggil-manggil nama
saya. Masya Allah, saya hampir-hampir tidak
mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya
melihat Kiai Tawakkal
melambaikan tangan dari dalam warung. Ah.
Dengan kikuk dan pikiran
tak karuwan, saya pun terpaksa masuk dan
menghampiri kiai saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan
asap rokok. Kedua wanita
menor menyambut saya dengan senyum penuh
arti. Kiai Tawakkal menyuruh
orang di sampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan
saya ini tempat sedikit!'. Lalu, kepada orang-orang yang ada di
warung, kiai
memperkenalkan saya. Katanya: 'Ini kawan saya,
dia baru datang dari
daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman
katanya.' Mereka yang duduknya dekat, serta merta mengulurkan tangan,
menjabat tangan saya
dengan ramah; sementara yang jauh, melambaikan
tangan." "Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri,
masih seperti dalam
mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar kiai menawari,
'Minum kopi ya?'
Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu
lagi, yu!' kata kiai kemudian kepada wanita warung sambil
mendorong piring jajan ke dekat
saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape
goreng kebanggaan
warung ini!' Lagi-lagi saya hanya menganggukkan
kepala asal mengangguk." "Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan
'kawan-kawan'nya dan
membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak
habis pikir,
bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal
waliyullah dan dihormati para kiai lain, bisa berada di sini. Akrab
dengan orang-
orang beginian; bercanda dengan wanita warung.
Ah, inikah yang
disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia
lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba
saya seperti mendapat
jawaban dari tanda tanya yang selama ini
mengganggu saya dan
karenanya saya bersusah payah mengikutinya
malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap
pandangan saya terhadap
beliau berubah. 'Mas, sudah larut malam," tiba-tiba
suara Kiai
Tawakkal membuyarkan lamunan saya, 'kita
pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, kiai membayari
minuman dan makanan kami,
berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar.
Seperti kerbau
dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata
setelah melewati kebun sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri
jalan-jalan yang tadi
kami lalui, 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas
saja!' katanya." "Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan,
dan akhirnya sampai di
sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan
kejadian yang
menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas
permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di
seberang, beliau
menoleh ke arah saya yang masih berdiri
mematung. Beliau
melambai, 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa
berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang
cukup lebar. Sampai di
seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-
duduk di bawah pohon
randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,'
katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian, 'kita masih
punya waktu, insya
Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.'
Setelah saya ikut
duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara
berwibawa, kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan
apa yang kau cari?
Apakah kau sudah menemukan pembenar dari
tanda yang kau baca di
kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut?
Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda, menjadi ragu terhadap
kemahiranmu
sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin
menusuk mendengar
rentetan pertanyaan-pertanyaan beliau yang
menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian
terus
berbicara. 'Anak muda, kau tidak perlu
mencemaskan saya hanya karena
kau melihat tanda 'Ahli neraka' di kening saya. Kau
pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan
bahwa aku memang pantas
masuk neraka. Karena pertama, apa yang kau lihat
belum tentu
merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang
bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah
milik Allah. Maka
terserah kehendak-Nya, apakah Ia mau
memasukkan diriku ke sorga atau
ke neraka. Untuk memasukkan hambaNya ke
sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan.
Sebagai kiai, apakah kau
berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu
ke sorga kelak? Atau kau
berani mengatakan bahwa orang-orang di warung
tadi yang kau pandang sebelah mata itu, pasti masuk neraka? Kita berbuat
baik karena kita
ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin
berdekat-dekat denganNya,
tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan
kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya.
Bukankah begitu?' Aku
hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal
terus berbicara sambil
menepuk-nepuk punggung saya, 'Kau harus lebih
berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan
yang berupa anugerah
tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang
berupa penderitaan.
Seperti mereka yang di warung tadi, kebanyakan
mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap
takabbur, ujub, atau sikap-
sikap lain yang cenderung membesarkan diri
sendiri. Berbeda dengan
mereka yang mempunyai kemampuan dan
kelebihan, godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila
kemampuan dan
kelebihan itu diakui oleh banyak pihak.' Malam itu
saya benar-benar
merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan
baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui. 'Ayo, kita pulang!' tiba-tiba
kiai
bangkit, 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang
subuh nanti, kau
boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya
memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini." "Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai
Tawakkal sudah tak
tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan.
Kudengar azan subuh
berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan
surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan
bisa ketemu dan
berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi,
jangankan Kiai
Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada.
Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal.
Baru setelah
sembahyang, seseorang menghampiri saya,
'Apakah sampeyan Jakfar?'
tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun
menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang
milik saya sendiri. 'Ini
titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.' 'Beliau
dimana?' tanya
saya buru-buru. 'Mana saya tahu?' jawabnya, 'Mbah
Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu
dari mana beliau datang
dan kemana beliau pergi.' Begitulah ceritanya. Dan
Kiai Tawakkal
alias Mbah Jogo yang telah berhasil merubah sikap
saya itu tetap merupakan misteri." Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami
yang dari tadi
mendengarkan, masih diam tercenung, sampai Gus
Jakfar kembali
menawarkan suguhannya. ***

Rembang, Mei 2002

Ditulis Oleh : Imam Baidillah ~Tentang dan Karya Penyair

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Gus Jakfar (Cerpen) oleh : A Mustofa Bisri yang ditulis oleh Tentang dan Karya Penyair yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 19.39

0 komentar:

Posting Komentar

Tentang dan Karya Penyair© 2014. All Rights Reserved.
SEOCIPS Areasatu