Mubalig Kondang (Cerpen) : A Mustofa Bisri

Written By Imam Baidillah on Minggu, 23 Juni 2013 | 19.53

KETIKA jauh-jauh hari istriku menginformasikan
bahwa di kota kami
akan kedatangan seorang dai kondang dari Ibu
Kota, aku tak begitu
memerhatikan. Waktu itu pikiranku sedang
mengembara ke soal-soal lain. Hari ini dia mengingatkan lagi. "Pak, nanti malam Sampeyan ikut ke kota apa
tidak?" katanya sambil
mendekati saya yang sedang duduk termenung di
lincak*) depan rumah. "Ada apa ke kota?" tanyaku malas. "Lo, Sampeyan ini bagaimana sih; kan nanti malam
ada pengajian
akbar?!" dia jatuhkan pantatnya yang tambun ke
lincak bambu hingga
menimbulkan suara berderak; aku sedikit bergeser
sambil berdoa mudah- mudahan lincak kesayanganku tak ambrol. "Orang
sedesa upyek**)
membicarakan dai kondang Ibu Kota yang akan
mengisi pengajian nanti
malam, kok Sampeyan tenang-tenang saja.
Makanya Sampeyan itu jadi orang mbok kumpul-kumpul. Jangan mengurung
diri di rumah saja,
seperti katak dalam tempurung!" Istriku berhenti sebentar, merogoh dunak di
bawah lincak, meraup biji-
biji jagung dan menebarkannya ke halaman. Tak
lama ayam-ayam
peliharaannya ribut, riuh rendah suaranya, berebut
jagung. Disenggolnya pundakku dengan pundaknya
sendiri yang gempal hingga aku
hampir terjengkang sambil berkata melanjutkan
omelannya: "Ustaz makin bikin rombongan nyewa colt. Ibu-ibu
juga bikin rombongan
sendiri. Bu Lurah menyiapkan bus mini dan truk.
Tadi saya sudah
daftar dua orang. Kalau Sampeyan enggak pergi,
biar nanti saya sama simbok. Ini pengajian akbar, mubalignya dari
Jakarta. kita mesti
datang agak gasik supaya dapat tempat." Istriku --seperti kebanyakan warga kampung
yang lain-- mungkin maniak
pengajian. Di mana saja ada pengajian --di kota
kecamatan atau di
desa-desa-- dia mesti mendengar dan datang
menghadirinya. Saya tak tahu apa saja yang diperolehnya dari pengajian-
pengajian yang begitu
rajin ia ikuti itu. Nyatanya, kelakuannya --seperti
kebanyakan warga
kampung yang lain-dari dulu tidak berubah.
Kesukaannya menggunjing orang tidak berkurang. Hobinya bohong juga
berlanjut. Senangnya
kepada duit malah bertambah-tambah. Seperti juga
Haji Mardud yang
sering menjadi panitia pengajian itu, sampai
sekarang tak juga berhenti merentenkan uang. Si Salim dan Parman
yang rajin mendatangi
pengajian juga masih terus rajin merekap togel.
Imron itu malah
sambil ngaji sambil nggodain cewek-cewek. Lalu
apa gunanya pengajian- pengajian itu jika tak mengubah apa-apa dari
perilaku masyarakat
pengajian? Mubalig kondang dari Ibu Kota? Apa istimewanya?
Mubalig di mana-mana
ya begitu itu. Tidak sedikit dari mereka yang cuma
pinter ngomong;
ngompor-ngompori; menakut-nakuti; melawak.
Ngapusi masyarakat yang awam. Kalau hanya tidak konsekuen --mengajak
baik tapi diri sendiri
tak bisa melakukannya-- masih lumayan. Ini tidak,
mengajak baik tapi
diri sendiri justru melakukan yang sebaliknya.
Menganjurkan hidup sederhana, diri sendiri bermewah-mewah.
Menganjurkan kerukunan, diri
sendiri provokator. Bahkan ada yang keterlaluan.
Dengan berani
menggunakan ayat-ayat Quran dan hadis Nabi
untuk kepentingan politik praktis dan menyebar kebencian. Bangga jika
agitasinya melecehkan
pihak lain --sering kali malah pribadi-- ditepuki. "Hei, Kang!" aku kaget, kembali istriku
menyenggolkan pundak-
gempalnya ke pundakku, sekali lagi aku hampir
terjengkang, "diajak
ngomong, malah bengong! Piye? Berangkat apa
enggak?" "Sudahlah kau berangkat saja dengan simbok!"
kataku biar dia tidak
terus ngomel. Kalau enggak malas nanti aku
berangkat sendiri,
nyepeda." "Ya sudah!" katanya agak ketus. Diambilnya lagi
segenggam jagung dan
disebarkannya ke arah ayam-ayam yang memang
seperti menunggu. Lalu
bangkit dari lincak, meninggalkanku sendirian lagi.
Alhamdulillah, aku bisa melamun lagi. *** Menjelang isyak rupanya istriku dan simbok sudah
berdandan. Begitu
selesai sembahyang langsung rukuh mereka copot
dan memperbaiki
sebentar dandanan mereka. "Mau mengaji kok seperti mau mendatangi
ngantenan," kataku begitu
datang dari surau dan melihat mereka sibuk
membedaki muka mereka. "Cerewet!" kata mereka hampir serempak. "Kalau makan, ambil sendiri di grobok!" teriak
istriku begitu
melewati pintu rumah. Dan, ditinggalkannya aku
sendirian. Kudengar
keriuhan dari kelurahan yang tak jauh dari
rumahku. Pastilah itu ibu- ibu sedang rebutan naik bus mini dan anak-anak-
anak muda rebutan naik
truk. Dari arah surau juga kudengar kesibukan
rombongan mau berangkat
ke kota. Mereka yang akan mendengarkan --atau
melihat atau sekadar kepingin tahu-- mubalig kondang dari Ibu Kota. Tak lama kemudian suasana menjadi sepi.
Rombongan-rombongan sudah
berangkat. Setelah makan, aku rebahkan badanku
di balai-balai,
berharap bisa tertidur, tapi mata tak mau terpejam
juga. Aku menyesal juga tadi tidak ikut, ketimbang bengong sendirian
begini. Kalau bosan
dengan pengajiannya, aku kan bisa jalan-jalan,
cuci mata. Terpikir
begitu, akhirnya aku pun bangkit. Kukenakan
baju, kuambil sepeda pusakaku, dan kututup pintu rumahku. Kukayuh sepedaku pelan-pelan menuju kota. Aku
toh tidak sedang
mengejar apa-apa. Hampir tak kujumpai manusia
dan yang kudengar hanya
sesekali lenguh sapi dan suara jengkerik.
Untunglah listrik sudah masuk desaku. Meskipun lampu-lampu yang
terpasang di pinggir jalan
hanya jarang-jarang dan tidak begitu terang,
cukup membantu juga.
Apalagi lampu berko sepedaku nyalanya byarpet.
Bersepeda malam-malam begini, aku jadi teringat Sudin, kawanku di
pesantren dulu yang suka
mengajakku balapan mengayuh sepeda bila
ngluyur bersama. Dia sering
dimarahi Pak Sahlan yang menyewakan sepeda
kepada santri-santri, karena sering merusakkan sepedanya. Di mana
kira-kira anak badung itu
sekarang? Sudin anak orang kaya kota yang konon sudah
putus asa melihat
kelakuan anaknya dan terpaksa 'membuangnya'
ke pesantren. Sering kali
dulu aku ditraktir Sudin nonton bioskop dan
makan-makan di restoran. Dan, tidak jarang pulangnya ke pesantren sudah
larut malam. Karena
sudah berkali-kali ditakzir, dihukum, sebab
nonton, aku pun lalu
menolak jika Sudin mengajak nonton. Aku malu
dengan kawan-kawan santri yang lain. Sudin sendiri sepertinya
berpedoman sudah telanjur
basah. Karena sudah terkenal sebagai langganan
takzir, dia pun cuek.
Menganggap takzir sebagai perkara biasa yang
tidak perlu ditakuti. Dia tidak hanya ditakzir karena nonton, tapi juga
karena melanggar
banyak larangan dan menyalahi banyak peraturan
pesantren; seperti
berkelahi dengan kawan, membolos, mengintip
santri putri, dlsb. Berbagai macam bentuk takzir sudah dicobanya,
mulai dari membersihkan
kakus; membayar denda; mengisi kulah masjid;
dlsb. Rambutnya tak
sempat tumbuh, karena sering kena hukuman
gundul. Terakhir Sudin diusir dari pesantren karena kedapatan mencuri
kas pesantren. "Eit!" hampir saja aku terjatuh. Akar pohon asam di
tepi jalan
membuat sepedaku oleng. Untung aku segera bisa
menguasainya.
Lamunanku buyar. Tapi aku bersyukur, tak terasa
kota sudah kelihatan dekat. Di pinggir jalan menuju alun-alun yang kulalui,
berderet-deret mobil
diparkir. Ada colt, ada bus, dan terbanyak truk.
Rupanya --melihat
nomor-nomor polisi berbagai kendaraan itu--
mereka yang datang menghadiri pengajian, tidak hanya dari dalam kota.
Dari luar kota
juga banyak. Dari suara pengeras suara yang
sudah terdengar, aku tahu
ceramah mubalig kondang sudah mulai. Dua orang anak muda gondrong tiba-tiba
menghadangku dan menyeret
sepedaku ke sebuah halaman yang di depannya
ada papan tulis
bertuliskan 'TITIPAN SEPEDA Rp1000'. Untung di
kantongku ada persis seribu rupiah. Kuulurkan satu-satunya lembaran
uang yang kumiliki itu
kepada salah seorang anak muda yang kelihatan
tidak sabar. Aku terus
ngeloyor menyibak kerumunan orang di mana-
mana. Termasuk mereka yang mengerumuni pedagang-pedagang yang mremo
menjual berbagai macam
makanan dan mainan anak-anak. Luar biasa. Lautan manusia meluber ke mana-
mana. Suara pengeras suara
bergaung-gaung ke berbagai penjuru,
melantunkan pidato mubalig yang
berkobar-kobar dan sesekali menyanyi atau
menyampaikan lelucon- lelucon. Setiap kali disusul dengan gemuruh
teriakan dan tepuk tangan
hadirin. Dari kejauhan mubalig itu sudah kelihatan, karena
panggung yang
tinggi dan lampu yang luar biasa terangnya. Entah
berapa watt saja.
Hanya beberapa puluh pengunjung di bagian
depan, di kanan-kiri panggung, yang duduk di kursi; lainnya lesehan di
rerumputan alun-
alun. Banyak ibu-ibu yang menggelar
selendangnya untuk tidur anaknya
yang masih kecil, bahkan bayi. Tapi, aku tak
melihat istriku dan simbok. Entah di mana mereka duduk. Aku terus
menerobos pelan-pelan
dan kadang harus melingkar-lingkar dan berjalan
miring di antara
pengunjung, agar bisa lebih dekat ke panggung. Semakin dekat, semakin jelas sosok mubalig
kondang yang dari kejauhan
suaranya menggelegar itu. Ternyata tubuhnya
sedang-sedang saja. Yang
membuat tampak gagah justru pakaiannya. Dia
mengenakan setelan baju koko, tapi tidak seperti yang biasa dikenakan
orang di kampungku.
Baju kokonya mengilap, mungkin dari sutra. Di
bagian leher dan
dadanya ada bordiran kembang-kembang dari
benang emas. Sorban yang disampirkan di pundaknya juga tidak seperti
umumnya sorban. Warna dan
coraknya serasi benar dengan setelan bajunya.
Ada dua cincin bermata
zamrud dan pirus, besar-besar, di jari-jari
manisnya. Penampilan mubalig kondang memang lain dengan mubalig
lokal yang biasa kami
saksikan. Bicaranya mantap. Gerakan tubuh dan
tangannya benar-benar
sejiwa dengan isi ceramahnya. Dan, wajahnya.... Dan, wajahnya.... Nanti dulu.
Wajah itu seperti
sudah aku kenal. Tapi tak mungkin. Tak mungkin!
Masa dia? Tapi persis
sekali. Dahinya yang sempit itu, matanya yang agak
sipit dengan sorot yang nakal itu, hidungnya yang bulat itu, mulutnya
yang lebar dan
seperti terus mengejek itu, dagunya yang terlalu
panjang itu, dan
telinganya yang lebar sebelah itu, ah tak mungkin
lain. Aku tak salah lagi, pastilah itu dia. Sudin! Aku tiba-tiba kepingin mendengarkannya. "Jadi sekali lagi, Saudara-saudara, maksiat yang
sudah merajalela itu
harus kita perangi! Juga kenakalan remaja
sekarang ini sudah sangat
mengkhawatirkan. Apa jadinya generasi kita yang
akan datang bila kenakalan remaja itu tidak segera kita tanggulangi
sekarang juga.
Kalau di waktu muda malas, apa jadinya bila sudah
tua? Kere, saudara-
saudara! Kere! 'Tul enggak?!" "Betuuul!! Kereee!!" teriak hadirin serempak. "Kalau di waktu muda sudah suka jambret, apa
jadinya bila sudah tua.
Apa, saudara-saudara? Ko... ko...!" "Korupsiii!!!" sekali lagi hadirin berteriak
menyambutnya, disusul
tempik-sorak gegap gempita. "Ya, korupsi!" ulangnya berwibawa. Ah, Sudin, kau masih belum juga bisa fasih
melafalkan huruf 'r'
sampai sekarang. Memang ajaib. Sudin kawan di pesantren yang tadi
baru saja datang di
lamunanku, kini --meski juga seperti tidak nyata--
berdiri di
depanku. Apa tadi itu firasat? Baru dilamun, tiba-
tiba ketemu! Sudin yang nakal. Sudin yang di pesantren langganan
takzir. Sudin yang
diusir karena mencuri uang kas pesantren. Ah,
siapa mengira kini jadi
mubalig kondang seperti itu. Bagaimana ceritanya
Sudin sampai memunyai karamah begitu besar? Bagiku itu
sungguh musykil. Kalau ini nanti kuceritakan kepada orang-orang
kampung --kalau
kukatakan bahwa Almukarram KH Drs Samsuddin,
mubalig kondang yang
baru saja berceramah di alun-alun itu adalah Sudin,
kawan nakal saya di pesantren-- pasti tak ada yang percaya. Istriku
sendiri pun pasti
akan menertawakan. Lebih baik kuceritakan
kepadamu saja.
***
*)semacam balai-balai sederhana
**) ribut; sibuk membicarakan

Ditulis Oleh : Imam Baidillah ~Tentang dan Karya Penyair

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Mubalig Kondang (Cerpen) : A Mustofa Bisri yang ditulis oleh Tentang dan Karya Penyair yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 19.53

0 komentar:

Posting Komentar

Tentang dan Karya Penyair© 2014. All Rights Reserved.
SEOCIPS Areasatu