Lukisan Kaligrafi (Cerpen) Oleh : A. Musthofa Bisri

Written By Imam Baidillah on Minggu, 23 Juni 2013 | 19.48

Bermula dari kunjungan seorang kawan lamanya
Hardi. Pelukis yang capai mengikuti idealismenya sendiri lalu mengikuti
jejak banyak seniman yang lain: berbisnis;
meski bisnisnya masih dalam lingkup bidang yang dikuasainya.

Seperti kebanyakan bangsanya, Hardi sangat
peka terhadap kehendak pasar. Dia kini melukis
apa saja asal laku mahal.

Mungkin karena kecerdasannya, dia segera
bisa menangkap kelakuan zaman dan mengikutinya. Dia melukis mulai perempuan cantik, pembesar negeri, hingga kaligrafi.

Menurut Hardi, kedatangannya di samping
silaturrahmi, ingin berbincang-bincang dengan Ustadz Bachri soal kaligrafi.
Ustadz Bachri sendiri yang sedikit banyak mengerti soal kaligrafi Arab, segera menyambutnya antusias.

Namun, ternyata tamunya itu lebih banyak
berbicara tentang aliran-aliran seni mulai dari naturalis, surealis, ekpresionis, dadais, dan
entah apa lagi.
Tentang teknik melukis, tentang komposisi, tentang perspektif, dan istilah-istilah lain yang dia sendiri baru dengar kali itu.
Sepertinya memang sengaja menguliahi
Ustadz Bachri soal seni dan khususnya seni rupa.

Yang membuat Ustadz Bachri agak kaget, ternyata, meskipun sudah sering pameran kaligrafi, Hardi sama sekali tak mengenal aturan-
aturan penulisan khath Arab.
Tak tahu bedanya Naskh dan Tsuluts, Diewany dan Faarisy, atau Riq'ah dan Kufi.
Apalagi falsafahnya.

Katanya dia asal "menggambar" tulisan mencontoh kitab Quran atau kitab-kitab bertulisan Arab lainnya. Dia hanya tertarik dengan makna ayat yang ia ketahui lewat Terjemahan Quran Departemen Agama, lalu
dia tuangkan ayat itu ke dalam kertas atau kanvas.

Bila ayat itu berbicara tentang penciptaan langit dan bumi, maka dia pun melukis pemandangan, lalu di atasnya dituliskan ayat yang
bersangkutan. Kalau tidak begitu, dia tulis ayat yang dipilihnya dalam bentuk-bentuk
tertentu yang menurutnya sesuai dengan makna
ayat.
Ada hurufnya yang ia bentuk seperti mega, burung, macan, tokoh wayang, dan sebagainya.

Ustadz Bachri bersyukur atas kedatangan
kawannya yang -meskipun agak sok- telah memberinya wawasan mengenai kesenian, terutama seni rupa.
***

RINGKAS cerita, begitu si tamu berpamitan seperti
biasa Ustadz Bachri mengiringkannya sampai pintu. Nah, sebelum keluar melintasi pintu
rumahnya itulah si tamu tiba-tiba berhenti seperti terkejut. Matanya memandang kertas bertulisan Arab yang tertempel
di atas pintu, lalu katanya,
"Itu tulisan apa? Siapa yang menulis?"

Ustadz Bachri tersenyum, "Itu rajah. Saya yang
menulisnya sendiri."
"Rajah?"
"Ya, kata Kiai yang memberi ijazah, itu rajah
penangkal jin."
"Itu kok warnanya aneh; sampeyan menulis pakai apa?"
Matanya tanpa berkedip terus memandang ke atas pintu.
"Pakai kalam biasa dan tinta cina dicampur sedikit dengan minyak za'faran. Katanya minyak itu termasuk syarat penulisan rajah."
"Wah," kata tamunya masih belum melepas
pandangannya ke tulisan di atas pintu, "sampeyan mesti melukis kaligrafi."
"Saya? Saya melukis kaligrafi?" katanya sambil
tertawa spontan.
"Tidak. Saya serius ini," tukas tamunya, "sampeyan mesti melukis kaligrafi. Goresan-goresan sampeyan berkarakter.
("Ini apa pula maksudnya?" Ustadz Bachri membatin, tak paham).

Kalau bisa di atas kanvas. Tahu kanvas kan?! Betul ya. Tiga bulan lagi, kawan-kawan
pelukis kaligrafi kebetulan akan pameran; Nanti
sampeyan ikut. Ya, ya!"

Ustadz Bachri tidak bisa berkata-kata, tapi rasa tertantang muncul dalam dirinya. Kenapa tidak, pikirnya. Orang yang tak tahu khath saja
berani memamerkan kaligrafinya, mengapa dia
tidak?
Namun, ketika didesak tamunya, dia hanya mengangguk asal mengangguk.

Setelah tamunya itu pergi, dia benar-benar terobsesi untuk melukis kaligrafi. Setiap kali duduk-duduk sendirian, dia oret-oret kertas, menuliskan ayat-ayat yang ia hapal. Dia buka kitab-kitab tentang khath dan sejarah perkembangan tulisan Arab.

Bahkan dia memerlukan datang ke kota untuk sekadar melihat lukisan- lukisan yang dipajang di galeri dan toko-toko, sebelum akhirnya dia
memutuskan untuk membeli kanvas, cat, dan kuas.

Anak-anak dan istrinya agak bingung juga melihat dia datang dari kota dengan membawa oleh-oleh peralatan melukis.
Lebih heran lagi ketika dia jelaskan bahwa dialah yang akan melukis.

Meski mula-mula istri dan anak-anaknya mentertawakan, namun melihat keseriusannya, ramai-ramai juga mereka menyemangati. Mereka dengan riang ikut membantu membereskan dan membersihkan gudang yang akan dia pergunakan untuk "sanggar melukis".

Mungkin tidak ingin diganggu atau malu dilihat
orang, Ustadz Bachri memilih tengah malam untuk melukis. Istri dan anak-anaknya pun
biasanya sudah lelap tidur, saat dia mulai masuk ke gudang berkutat dengan cat dan kanvas-kanvasnya. Kadang-kadang sampai subuh, dia baru keluar.

Di gudangnya yang sekarang merangkap
sanggar itu, berserakan beberapa kanvas yang sudah belepotan cat tanpa bentuk.
Di antaranya sudah ada yang sedemikian tebal lapisan catnya, karena sering ditindas. Karena begitu dia merasa tidak sreg dengan lukisannya yang hampir jadi, langsung ia tindas dengan cat lain dan memulai lagi dari awal. Hal itu terjadi berulang kali.

"Ternyata sulit juga melukis itu," katanya suatu ketika dalam hati, "enakan menulis pakai kalam di atas kertas."

Hampir saja Ustadz Bachri putus asa.
Tapi, istri dan anak-anaknya selalu melemparkan pertanyaan-pertanyaan atau
komentar-komentar yang kedengaran di telinganya seperti menyindir nyalinya.

Maka, dia pun bertekad, apa pun yang terjadi harus ada lukisannya yang jadi untuk
diikutkan pameran.

Sampai akhirnya, ketika seorang kurir yang dikirim oleh Hardi kawannya itu, datang mengambil lukisannya untuk pameran yang
dijanjikan, dia hanya -atau, alhamdulillah, sudah
berhasil- menyerahkan sebuah "lukisan".

Ketika sang kurir menanyakan judul lukisan dan
harga yang diinginkan, seketika dia merasa seperti diejek. Tapi kemudian dia hanya
mengatakan terserah.
"Bilang saja kepada Mas Hardi, terserah dia!" katanya.
Dia sama sekali tidak menyangka.
 ***

MESKIPUN ada rasa malu dan rendah diri, dia
datang juga pada waktu pembukaan pameran untuk menyenangkan kawannya Hardi, yang berkali-kali menelepon memaksanya datang.

Ternyata pameran -di mana "lukisan"
tunggalnya diikutsertakan- itu diselenggarakan di sebuah hotel berbintang.

Wah, rasa malu dan rendah dirinya pun semakin memuncak. Dengan kikuk dan sembunyi-sembunyi dia menyelinap di antara
pengunjung.

Dari kejauhan dilihatnya Hardi berkali-kali menoleh ke kanan ke kiri. Mungkin mencari-cari dirinya.

Ada pidato-pidato pendek dan sambutan tokoh kesenian terkenal, tapi dia sama sekali tidak bisa tenang mendengarkan, apalagi menikmatinya.

Dia sibuk mencari-cari "lukisan"-nya di antara deretan lukisan-lukisan kaligrafi yang di pajang yang rata-rata tampak indah dan mempesona. Apalagi dipasang sedemikian rupa dengan pencahayaan yang diatur apik untuk mendukung tampilan setiap lukisan.
"Apakah lukisanku juga tampak indah di sini?" pikirnya, "di mana gerangan lukisanku itu
dipasang?"

Sampai akhirnya, ketika acara pidato-pidato usai
dan para pengunjung beramai-ramai mengamati lukisan-lukisan yang dipamerkan, dia yang
mengalirkan diri di antara jejalan pengunjung,
belum juga menemukan lukisannya.

Tiba-tiba terbentik dalam kepalanya "Jangan-jangan lukisanku diapkir, tidak diikutkan pameran, karena tidak memenuhi
standar."
Aneh, mendapat pikiran begitu, dia tiba-tiba justru menjadi tenang. Dia pun tidak lagi menyembunyikan diri di balik punggung para
pengunjung.

Bahkan, dia sengaja mendekati sang Hardi yang tampak sedang menerang-nerangkan kepada
sekerumunan pengunjung yang menggerombol di depan salah satu lukisan.

Lukisan itu sendiri hampir tak tampak olehnya tertutup banyak kepala yang sedang
memperhatikannya.

"Lha ini dia!" tiba-tiba Hardi berteriak ketika
melihatnya.
Dia jadi salah tingkah dilihat oleh begitu banyak orang,
"Ini pelukisnya!" kata Hardi lagi, lalu ditujukan kepada dirinya,
"Kemana saja sampeyan. Sudah dari tadi ya datangnya? Sini, sini.
Ini, bapak ini seorang kolektor dari Jakarta, ingin membeli lukisan sampeyan."

Astaga, ternyata lukisan yang dirubung itu
lukisannya. Dia lirik tulisan yang terpampang di bawah lukisan yang menerangkan data
lukisan.
Di samping namanya, dia tertarik dengan
judul (yang tentu Hardi yang membuatkan): Alifku Tegak di Mana-mana.

Wah, Hardi ternyata tidak hanya pandai melukis,
tapi pandai juga mengarang judul yang hebat-hebat, pikirnya.

Di kanvasnya itu memang hanya ada satu
huruf, huruf alif.
Lebih kaget lagi ketika dia membaca angka dalam keterangan harga. Dia hampir tidak mempercayai matanya: 10.000 dollar AS, sepuluh ribu dollar AS! Gila!

"Begitu melihat lukisan Anda, saya langsung
tertarik;" tiba-tiba si bapak kolektor berkata sambil menepuk bahunya,
"apalagi setelah kawan Anda ini menjelaskan makna dan falsafahnya. Luar biasa!" Dia tersipu-sipu.

Hardi membisikinya, "Selamat, lukisan sampeyan
dibeli beliau ini!"
"Katanya, Anda baru kali ini ikut pameran," kata si bapak kolektor lagi tanpa memperhatikan air mukanya yang merah padam,
"teruskanlah melukis dari dalam seperti ini." ("Melukis dari dalam? Apa pula ini?" pikirnya)

Wartawan-wartawan menyuruhnya berdiri di
dekat lukisan alifnya itu untuk diambil gambar. Dia benar-benar salah tingkah.
Pertanyaan-pertanyaan para wartawan dijawabnya sekenanya.
Mau bilang apa?

Besoknya hampir semua media massa memuat
berita tentang pameran yang isinya hampir didominasi oleh liputan tentang dirinya dan lukisannya.
Hampir semua koran, baik ibu kota maupun
daerah, melengkapi pemberitaan itu dengan menampilkan fotonya.

Sayang dalam semua foto itu sama sekali tidak tampak lukisan alifnya. Yang terlihat hanya dia sedang berdiri di samping kanvas kosong!

Beberapa hari kemudian, beberapa wartawan datang ke rumah Ustadz Bachri. Bertanya macam-macam tentang lukisan alifnya yang
menggemparkan.
Tentang proses kreatifnya, tentang bagaimana dia menemukan ide melukis alif itu, tentang prinsip keseniannya, dlsb.
Seperti ketika pameran dia asal menjawab saja.

Ketika makan siang, istri dan anak-anaknya ganti
mengerubutinya dengan berbagai pertanyaan tentang lukisan alifnya itu pula.
"Kalian ini kenapa, kok ikut-ikutan seperti
wartawan?!" teriaknya kesal.
"Tidak pak, sebenarnya apa sih menariknya
lukisan Bapak? Kok sampai dibeli sekian mahalnya?" tanya anak sulungnya.
"Kenapa sih Bapak hanya menulis alif?" tanya si
bungsu sebelum dia sempat menjawab pertanyaan kakaknya,
"mengapa tidak sekalian Bismillah, Allahu Akbar, atau setidaknya Allah, seperti umumnya kaligrafi yang ada?"
Istrinya juga tidak mau kalah rupanya.
Tidak sabar menunggu dia menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anaknya. "Terus terang saja, Mas, sampeyan menggunakan
ilmu apa, kok lukisanmu sampai tidak bisa difoto?"

Ustadz Bachri geleng-geleng kepala.
Kepada para wartawan dan orang
lain, dia bisa tidak terus terang, tapi kepada
keluarganya sendiri bagaimana mungkin dia akan menyembunyikan sesuatu.
Bukankah dia sendiri yang mengajarkan dan memulai tradisi keterbukaan di rumah.
"Begini," katanya sambil menyantaikan duduknya;
sementara semuanya menunggu penuh perhatian,
"terus terang saja; saya sendiri sama
sekali tidak menyangka. Kalian tahu sendiri, saya
melukis karena dipaksa Hardi, tamu kita yang pelukis itu. Saya merasa tertantang."
"Saya sendiri baru menyadari bahwa meskipun
saya menguasai kaidah-kaidah khath, ternyata melukis kaligrafi tidak semudah yang saya
duga. Apalagi, kalian tahu sendiri, sebelumnya
saya tidak pernah melukis. Lihatlah, di gudang kita, sekian banyak kanvas yang gagal
saya lukisi. Bahkan, saya hampir putus-asa dan
akan memutuskan membatalkan keikutsertaan saya dalam pameran.
Tapi, Hardi ngotot mendorong-dorong saya terus."
"Lalu, ketika cat-cat yang saya beli hampir habis,
saya baru teringat pernah melihat dalam pameran kaligrafi dalam rangka MTQ belasan tahun yang lalu, seorang pelukis besar memamerkan kaligrafinya yang menggambarkan dirinya sedang sembahyang dan di atas kepalanya ada
lafal Allah. Saya pun berpikir mengapa saya tidak
menulis Allah saja?"

Ustadz Bachri berhenti lagi, memperbaiki letak
duduknya, baru kemudian lanjutnya,
"Ketika saya sudah siap akan melukis, ternyata
cat yang tersisa hanya ada dua warna: warna putih dan silver. Tetapi, tekad saya sudah bulat, biar hanya dengan dua warna ini, lukisan
kaligrafi saya harus jadi.
Mulailah saya menulis alif.
Saya merasa huruf yang saya tulis bagus sekali, sesuai dengan standar huruf Tsuluts Jaliy. Namun, ketika saya pandang-pandang letak tulisan alif saya itu persis di tengah-tengah kanvas. Kalau saya lanjutkan menulis Allah, menurut selera saya waktu itu, akan jadi
wagu, tidak pas. Maka, ya sudah, tak usah saya lanjutkan. Cukup alif itu saja."
"Jadi, tadinya Bapak hendak menulis Allah?" sela si bungsu.
"Ya, niat semula begitu. Yang saya sendiri
kemudian bingung, mengapa perhatian orang begitu besar terhadap lukisan alif saya itu.
Saya juga tidak tahu apa yang dikatakan Hardi kepada kolektor dari Jakarta itu, tetapi dugaan saya dialah yang membuat lukisan saya bernilai
begitu besar. Termasuk idenya memberi judul yang sedemikian gagah itu."

"Tetapi, sampeyan belum menjawab pertanyaan
saya," tukas istrinya, "sampeyan menggunakan ilmu apa, sehingga lukisan sampeyan itu ketika difoto tidak jadi dan yang tampak hanya kanvas kosong yang diberi pigura?"
"Wah, kamu ini ikut-ikutan mempercayai mistik
ya?! Ilmu apa lagi? Saya tadi kan sudah bilang, alif itu saya lukis hanya dengan dua
warna yang tersisa. Sedikit putih untuk latar dan
sedikit silver untuk huruf alifnya. Mungkin, ya karena silver di atas putih itu yang
membuatnya tak tampak ketika difoto."

Istri dan anak-anaknya tak bertanya-tanya lagi;
tetapi Ustadz Bachri tak tahu apa mereka percaya penjelasannya atau tidak.


Ditulis Oleh : Imam Baidillah ~Tentang dan Karya Penyair

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Lukisan Kaligrafi (Cerpen) Oleh : A. Musthofa Bisri yang ditulis oleh Tentang dan Karya Penyair yang berisi tentang : Dan Maaf, Anda tidak diperbolehkan mengcopy paste artikel ini.

Blog, Updated at: 19.48

0 komentar:

Posting Komentar

Tentang dan Karya Penyair© 2014. All Rights Reserved.
SEOCIPS Areasatu